Perbedaan IMF dan Bank Dunia

Jika kita berbicara tentang lembaga moneter internasional maka kita akan menemukan 2 nama besar yang sangat berpengaruh di seluruh dunia. Kedua lembaga itu adalah IMF dan Bank Duni. Persamaannya sudah sangat jelas yaitu sama-sama bergerak di bidang moneter internasional dan yang sering membingungkan adalah perbedaannya. Berikut ini penulis ingin berbagi sedikit tentang perbedaan dari kedua lembaga keuangan dunia ini.
Secara tradisional tugas IMF adalah membantu negara yang bersangkutan, artinya yang mencari intervensinya, untuk mendapatkan kembali keseimbangan neracanya dengan dunia luar. Yang dipentingkan akhirnya adalah keseimbangan neraca berjalannya. Akan tetapi, ini juga banyak dipengaruhi oleh keseimbangan, artinya defisit, anggaran belanja pemerintah. Juga oleh kebijakan moneter bank sentral serta kementerian keuangan.
Bank Dunia lebih banyak mengurusi masalah-masalah struktural. Ia membantu negara yang bersangkutan dalam perombakan beberapa sektor dan menyempurnakan policy-policy yang menyangkut berbagai sektor yang sangat penting, misalnya sektor industri dan perdagangan. Biasanya yang dituju adalah liberalisasi atau deregulasi sektor-sektor ini, atau dengan kata-kata lain, menyingkirkan hambatan-hambatan yang merintangi produktivitasnya.
Walaupun IMF dan Bank Dunia mempunyai misi yang berlainan, namun selama sepuluh tahun yang belakangan ini masing-masing misi menjadi overlap. Artinya, IMF, misalnya di Afrika, sering ikut menangani masalah structural adjustment. Di lain fihak, Bank Dunia kadang-kadang, atau lebih sering, bisa memberi ‘quick disbursement loans’ yang sebetulnya menjadi kebiasaan bantuan IMF karena dana demikian dipakai (dalam anggaran belanja pemerintah)untuk menyeimbangkan kembali neraca pembayaran dan/atau anggaran belanja pemerintah.
Mengapa kedua instansi bisa memberikan bantuan yang serupa? Ini karena perkembangan sejarah, dan terkait dengan besar dana bantuan yang disediakan oleh IMF atau Bank Dunia itu. Yang menyediakan dana bantuan terbesar juga mempunyai pengaruh terbesar.
Di Indonesia misalnya, IMF-lah yang akan bertanggung jawab atas program umum stabilisasi serta mencari pola makro-policy baru yang lebih sehat. Dana bantuan dari IMF lebih besar daripada yang disediakan Bank Dunia. Bank Dunia di Indonesia akan lebih bertanggungjawab atas perbaikan struktural sektoral, khususnya sektor perbankan. Tetapi, IMF pun akan ikut bicara dalam hal ini. Bank Dunia akan membantu mengembangkan sistim pengendalian sektor perbankan di Indonesia agar ekonomi tidak mudah digoncangkan oleh bank bobrok, kredit macet serta proyek-proyek jelek, seperti sekarang ini. Tetapi IMF juga akan ikut bicara. Di antara lembaga-lembaga keuangan internasional ini akan ada semacam pembagian kerja: Bank Dunia akan mengurus pembenahan bank-bank komersial pemerintah, IMF mengurus penyehatan bank-bank swasta dan Bank Pembangunan Asia akan membenahi bank-bank pembangunan daerah.
Yang harus dimaklumi adalah perbedaan historis antara kedua lembaga keuangan internasional ini, yakni IMF dan Bank Dunia, karena bisa bentrokan dengan policy pemerintah.
“Ideologi” atau keyakinan tradisional IMF adalah bahwa prioritas yang paling utama yang harus dijunjung tinggi adalah stabilisasi moneter. Artinya, Indonesia harus mencapai kembali suatu kestabilan moneter dengan inflasi yang rendah dan defisit neraca berjalan yang juga kecil (angka sasarannya 2% dari PDB) agar “sustainable” untuk masa yang lama.
Sarana utama untuk mencapai serta menjaga agar inflasi rendah adalah keharusan memupuk surplus anggaran belanja. Ini bisa dikatakan bertentangan dengan doktrin Indonesia yang menghendaki anggaran belanja yang seimbang. Akan tetapi doktrin pembangunan kita sebetulnya sudah kadulawarsa. Tepat untuk masa lalu ketika sektor swasta masih kecil. Sekarang sektor swasta sudah besar sekali dan pertumbuhan ekonomi tergantung daripadanya. Agar sektor swasta bisa ekspansip maka sektor pemerintah (yakni anggaran belanjanya) harus kontraktip. Kalau tidak maka inflasi akan tinggi.
Dalam proses mencapai stabilisasi moneter maka IMF juga menuntut agar tingkat bunga tidak boleh diturunkan terlalu cepat. Di lain fihak, pemerintah melonggarkan likuiditas untuk mendorong produksi. Maka tingkat bunga bank harus diturunkan. Ini bertentangan dengan “resep IMF” karena IMF percaya bahwa dengan melonggarkan likuiditas maka kurs mata uang akan melemah. Belakangan ini kedua gejala memang terjadi: pemerintah melonggarkan likuiditas dan kurs mata uang rupiah sedikit melemah. Maka IMF akan teriak freekick! Mungkin Bank Dunia akan lebih bersimpati karena Bank Dunia lebih cenderung mementingkan kepentingan stimulasi produksi dan ekspor.
Di belakang IMF dan Bank Dunia ada pandangan negara-negara pemegang saham yang besar, seperti Amerika Serikat dan Jepang. Apakah (kementerian keuangan) negara-negara ini memihak IMF atau Bank Dunia?
Dalam menghadapi krisis mata uang di Asia Tenggara, yang cenderung menjalar ke Asia Timur dan lain-lain belahan dunia, maka kurang terdapat konsensus dalam pandangan serta teori-teori ekonominya. Maka kita juga harus pandai memanfaatkan situasi demikian itu.
Demikian yang dapat saya sampaikan semoga dapat bermanfaat bagi kita semua……….

About these ads

One thought on “Perbedaan IMF dan Bank Dunia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s